Rabu, 22 Januari 2014



KIMIA ANALITIK
Tugas 5
“ANALISIS KUALITATIF ANORGANIK”
A.     Prinsip analisis
Kimia analisis dapat dibagi dalam dua bidang yang disebut dengan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif membahas identifikasi zat-zat. Urusannya adalah unsur atau senyawaan apa yang terdapat dalam suatu sampel (contoh). Analisis kuantitatif berurusan dengan penetapan banyaknya suatu zat tertentu yang ada dalam sampel. Zat yang ditetapkan, yang sering dirujuk sebagai konstituen yang diinginkan atau analit, dapat merupakan sebagian kecil atau sebagian besar dari contoh yang dianalisis (Day dan Underwood, 1986).
Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation-kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Dengan memakai apa yang disebut reagensia golongan secara sistematik, dapat kita tetapkan ada tidaknya golongan-golongan kation, dan dapat juga memisahkan golongan-golongan ini untuk pemeriksaan lebih lanjut (Svehla, 1990).
Kation golongan I membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion golongan ini adalah timbel, merkurium(I) (raksa), dan perak. Kation golongan pertama, membentuk klorida-klorida yang tak larut. Namun, timbel klorida sedikit larut dalam air, dan karena itu timbel tak pernah mengendap dengan sempurna bila ditambahkan asam klorida encer kepada suatu cuplikan; ion timbel yang tersisa itu, diendapkan secara kuantitatif dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam bersama-sama kation golongan kedua (Svehla, 1990).
Kation golongan II tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan dengan hidogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, bismut, kadmium, arsenic (III), arsenic (V), stibium (III), stibium (V), timah (II), dan timah (III) (IV). Keempat ion yang pertama merupakan sub-golongan IIA dan keenam yang terakhir sub-golongan IIB. Sementara sulfida dari kation dalam golongan IIA tak dapat larut dalam amonium polosulfida, sulfida dari kation dalam golongan IIB justru dapat larut (Svehla, 1990).
Kation golongan III tak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal. Kation-kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi (II), besi (III), kromium (III), aluminium, zink, dan mangan (II) (Svehla, 1990).
Kation golongan IV tak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III. Kation-kation ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation-kation golongan ini adalah: kalsium, strontium, dan barium. Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir, yang meliputi ion-ion magnesium, natrium, kalium, amonium, litium, dan hidrogen (Svehla, 1990).
Dengan pemisahan-pemisahan menjadi kelompok-kelompok yang cukup kecil dan atau kation tersendiri (terisolasi), lalu dilakukan pembuktian mengenai ada atau tidaknya kation-kation dalam setiap kelompok. Dengan jalan ini, kita melakukan analisa secara sistematis. Reaksi-reaksi disini menyebabkan terjadinya zat-zat yang baru dari zat semula dan dikenali dari perbedaan sifat fisiknya yang antara lain :
1.      Membentuk endapan dari suatu larutan
2.      Melarutkan zat yang terbentuk padat/endapan
3.      Zat yang berwarna lain
4.      Pembentukan gas
5.      Bentuk kristal yang khas
Analisis kualitatif menggunakan dua macam uji, raksi kering dan reaksi basah. Reaksi kering dapat diterapkan untuk zat-zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam larutan. sejumlah uji yang dapat dilakukan dalam keadaan kering, yakni tanpa melarutkan contoh. Misalnya dengan pemanasan, uji pipa-tiup, uji nyala, uji spektroskopi, uji manik boraks, uji manik fosfat, dan uji manik natrium karbonat. Reaksi basah dibuat dengan melarutkan zat-zat dalam larutan. Suatu reaksi diketahui berlangsung
(a) dengan terbentuknya endapan
(b) dengan pembebasan gas
(c) dengan perubahan warna
Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen sulfida, dan amonium karbonat serta amonium sulfida. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia ini membentuk endapan atau tidak. Jadi boleh kita katakan bahwa klasifikasi kation didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari kation tersebut. Kelima golongan kation dan ciri-ciri khas golongan-golongan ini adalah sebagai berikut:
1.     Golongan I
Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion golongan ini adalah timbel, merkurium (I), dan perak.
2.     Golongan II
         Kation golongan ini membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, bismut, kadnium, arsenik (III), arsenik (IV), stibium (III), stibium (V), timah (II), dan timah (III), (IV).
3.     Golongan III
         Kation golongan ini membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal. Kation-kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi (II), kromium (III), aluminium, Zink dan Mangan.
4.     Golongan IV
         Kation golongan ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation golongan ini adalah kalsium, barium, dan stronsium.
5.     Golongan V
         Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation terakhir yang meliputi ion-ion megnesium, natrium, kalsium, amnium, litium, dan hidrogen (Svehla, 1990).
Setelah pemisahan dan deteksi kation-kation yang sistematik, pencarian terhadap anion-anion haruslah dimulai. Tiosulfat umumnya tidak larut. Untuk penyelidikan anion, kita perlu memperoleh larutan yang mengandung semua atau sebagian besar dari anion-anion itu, bebas dari logam berat sejauh mungkin. Ini paling baik dengan jalan mendidihkan zat itu dengan larutan natrium karbonat  pekat; terjadi penguraian berganda (entah sebagian atau sempurna) dengan menghasilkan karbonat-karboanat yang tak larut (dalam beberapa keadaan karbonat basa dan hidroksida-hidroksidanya) dari logam-logamnya (kecuali logam alkali), dan garam-garam natrium yang larut dari anion-anionnya, yang akan masuk ke dalam larutan (Vogel, 1985).
Perak adalah logam yang putih, dapat ditempa dan liat. Rapatannya tinggi (10,5 gr ml-1) dan ia melebur pada 960,5°C. Ia tak larut dalam asam klorida , asam sulfat encer (1 M) atau asam nitrat encer (2 M). Ia melarut dalam asam nitrat yang lebih pekat atau dalam asam sulfat pekat. Perak membentuk ion monovalen dalam larutan yang tak berwarna. Senyawa-senyawa perak(II) tidak stabil, tetapi memainkan peranan penting dalam proses-proses oksidasi-reduksi yang dikatalisiskan oleh perak. Perak nitrat mudah larut dalam air; perak asetat, perak nitrit dan perak sulfat kurang larut, sedang semua senyawa-senyawa perak lainnya praktis tidak larut. Tetapi kompleks-kompleks perak, larut. Halida-halida perak peka terhadap cahaya; cirri-ciri khas ini dipakai secara luas dalam bidang fotografi (Svehla, 1990).
Dekontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia menggunakan mediator larutan perak (II) atau disebut mediator Ag2+, memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut: peralatannya sangat kompak dan dapat diinstal di dalam glove box, kondisi pengoperasian yang ringan di bawah tekanan normal dan suhu kamar, dan material radioaktif berada di dalam fase cair. Dekontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia menggunakan mediator Ag2+ telah banyak digunakan untuk dekontaminasi limbah terkontaminasi α, seperti di Perancis telah dibangun instalasi pegolahan limbah radioaktif terkontaminasi α dengan metode oksidasi elektrokimia sejak tahun 1981 yang bertempat di Lahague, Amerika, Inggris bahkan belakangan Jepang sudah melakukan riset tentang pengolahan limbah radioaktif terkontaminasi α dengan metode oksidasi elektrokimia secara intesif (Suwardiyono, 2010).
Preparasi larutan oligokation besi Agen pemilar dibuat dengan cara hidrolisis. Sebanyak 86,50 g FeCl3.6H2O dilarutkan dalam 1600 mL air bebas ion sambil diaduk sehingga diperoleh larutan FeCl3 0,2 M. Larutan ini dihidrolisis dengan penambahan NaOH (OH-/Fe3+=2,0) sampai diperoleh larutan FeCl3 dengan pH sekitar dua, kemudian larutan ini diaduk dalam gelas beker 2000 mL selama 24 jam pada temperatur kamar (25oC). Larutan oligomer yang diperoleh selanjutnya diperam (aging) selama 24 jam pada temperatur kamar (Wijaya, dkk, 2004).
Penentuan Kandungan besi di dalam Na- montmorillonit dan komposit oksida besi- montmorillonit Untuk penentuan kandungan Fe dalam lempung terpilar digunakan metode analisis pengaktifan neutron (APN). Masing-masing 0,1 gram sampel Na-montmorilonit, montmorilonit termodifikasi oksida besi dan montmorilonit termodifikasi oksida besi dengan penambahan asam sulfat 1M, 2M, dan 3M  yang masing-masing dituliskan sebagai Komposit -1M, Komposit-2M dan Komposit-3M serta Standar Reference Material (SRM) 2704 dimasukkan ke dalam tempat sampel kemudian diradiasi selama 2 menit dan didinginkan selama 5 menit (sebagai waktu tunda). Selanjutnya sampel dan SRM dicacah dengan alat spektrometer gamma jenis    92x spectrum master
B.      Reaksi kimia yang terlibat
C.      Bahan dan alat


A.           Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah,
1.pembakar bunsen
2.tabung reaksi
3.sudip
4.penjepit
5.botol seprot.

B.            Bahan
Bahan yang dipergunakan antara lain,
1.larutan sampel kation
2.sampel anion
3.amonium karbonat
4.asam klorida encer
5.air
6.amonium hidroksida
7.asam sulfat ence
8.natrium hidroksida
9.kalium sianat
10.asam klorida pekat
11.besi klorida
12.reagensia nikel etilenadiamina nitrat

D.    Prosedur analisis
A.           Penentuan Kation
1.    Analisis Pendahuluan
v Sampal diamati menurut bentuk zat.
v Sampel diamati berdasarkan warna zat.
v Sampel diamati berdasarkan bau yang ditimbulkan.
2.    Pada uji nyala, sampel direaksikan dengan larutan HCl pekat kemudian dipanaskan dalam nyala bunsen dan diamati warna yang dihasilkan.
3.    Pada uji kelarutan, sampel direaksikan secara bertahap dengan akuades dingin, akuades panas, HCl 2N, HCL pekat, HNO3 2N, HNO3 pekat dan aquaregia hingga larut.
4.    Pada uji penggolongan
v Filtrat yang dihasilkan direaksikan dengan HCl 6N, jika terbentuk endapan merupakan golongan I
v Filtrat yang dihasilkan direaksikan dengan NH4Cl dan NH4OH 6N (basa), jika terbentuk endapan termasuk golongan III A.
v Filtrat dihasilkan dan direaksikan dengan (NH4)2CO3, jika terbentuk endapan termasuk golongan IV A. Sedangkan jika masih berupa filtrat merupakan golongan sisa / golongan V.
v Pada uji identifikasi golongan dan uji identifikasi kation, sampel diidentifikasi berdasarkan penggolongan  dan kation.
E.     Perhitungan dan analisis data

a.       Hasil
No.
1.



2.
3.

4.







5.
Uji Kation
Uji Pendahuluan
a. Bentuk
b. Warna
c. Bau
Uji Nyala
Uji Kelarutan
Filtrat + Aquadest
Uji penggolongan
a.       Sampel + HCl 2 N
b.      Menambahkan air pada endapan kemudian mendidihkan
c.       Menambahkan endapan  hasil b dengan amonium hidroksida
Identifikasi Kation
Data Pengamatan

Kristal
Kuning kecoklatan
Berbau asem
Hijau

Larut

Endapan coklat
Masih terdapat endapan warna coklat dan filtrat

Filtrat tanpa endapan


Fe+ (besi)

b.      Pembahasan
Analisis kualitatif dilakukan untuk menemukan dan mengidentifikasi jenis unsur, senyawa dan jenis gugusan yang terdapat dalam bahan yang dianalisis. Hali ini sangat penting dilakukan karena faktanya adalah seringkali seorang analis buta terhadap komposisi sampel yang akan dianalis atau juga jenis pengotornya. Analisis kualitatif anorganik dapat dilakukan dengan tahapan antara lain uji pendahuluan dengan mengamati bentuk, warna dan bau yang dihasilkan dari suatu cuplikan. Tahapan selanjutnya yaitu uji nyala, uji kelarutan, uji penggolongan, uji identifikasi golongan, uji identifikasi kation dan uji identifikasi anion.
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:
·       Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar
·           Pengolahannya relatif mudah dan murah dan
c.       ·           Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Kation golongan 3 (Al3+, Cr3+, Fe2+, Mn2+) membentuk sulfida yang lebih larut dibandingkan kationgolongan 2. Karena itu untuk mengendapkan kation golongan 3 sebagaigaram sulfida konsentrasi ion H+ dikurangi menjadi sekitar 10-9 M atau pH 9.Hal ini dapat dilakukan dengan penambahan amonium hidroksida danamonium klorida.Kemudian dijenuhkan dengan H2S. Dalam kondisi inikesetimbangan:
H2S → 2H+ + S2-
akan bergeser ke kanan. Dengan demikian konsentrasi S2-akan meningkan dan cukup untuk mengendapkan kation golongan III. H2S dapat juga diganti dengan (NH4)2S. Penambahan amonium hidroksida dan amonium klorida juga dapat mencegah kemungkinan mengendapnya Mg menjadi Mg(OH)2. Penambahan kedua pereaksi ini menyebabkan mengendapnya kation Al3+, Cr3+ dan Fe2+, sebagai hidroksidanya, Fe(OH)3(coklat), Al(OH)3(putih) dan Cr(OH)3 (putih). Ion sulfida dapat bereaksi dengan Mn2+ dan Fe2+ akan bereaksi langsung membentuk endapan sulfida FeS (hitam) dan MnS (coklat).
Kation golongan 3 (Al3+, Cr3+, Fe2+, Mn2+) membentuk sulfida yang lebih larut dibandingkan kationgolongan 2. Karena itu untuk mengendapkan kation golongan 3 sebagaigaram sulfida konsentrasi ion H+ dikurangi menjadi sekitar 10-9 M atau pH 9.Hal ini dapat dilakukan dengan penambahan amonium hidroksida danamonium klorida.Kemudian dijenuhkan dengan H2S. Dalam kondisi inikesetimbangan:
H2S → 2H+ + S2-
Akan bergeser ke kanan. Dengan demikian konsentrasi S2-akan meningkan dan cukup untuk mengendapkan kation golongan III. H2S dapat juga diganti dengan (NH4)2S. Penambahan amonium hidroksida dan amonium klorida juga dapat mencegah kemungkinan mengendapnya Mg menjadi Mg(OH)2. Penambahan kedua pereaksi ini menyebabkan mengendapnya kation Al3+, Cr3+ dan Fe2+, sebagai hidroksidanya, Fe(OH)3(coklat), Al(OH)3(putih) dan Cr(OH)3 (putih). Ion sulfida dapat bereaksi dengan Mn2+ dan Fe2+ akan bereaksi langsung membentuk endapan sulfida FeS (hitam) dan MnS(coklat).
Larutan ammonia, endapan coklat merah seperti gelatin dari besi(III) hidroksida, yang tak larut dalam reagensia berlebihan, tetapi larut dalam asam.
Fe3+ + 3NH3 + 3H2O → Fe(OH)3↓ + 3NH4+
Hasil kali kelarutan besi(III) hidroksida begitu kecil (3,8x10-38), sehingga terjadi pengendapan sempurna, bahkan dengan adanya garam-garam ammonium (perbedaan dari besi (III), nikel, kobalt,mangan, zink dan magnesium).  Pengendapan tak terjadi jika ada serta asam-asam organik tertentu. Besi (III) hidroksida diubah pada pemanasan yang kuat menjadi besi (III) oksida
Kation golongan III tak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal. Kation-kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi (II), besi (III), kromium (III), aluminium, zink, dan mangan (II) (Svehla, 1990).
Analisa campuran beberapa kation lazimnya dilakukan dengan cara pengendapan bertahap menggunakan reagen yang sesuai. Salah satu cara untuk analisa campuran adalah dengan mempergunakan reaksi-reaksi selektif. Pada pokok tujuannya ialah memisahkan segolongan (sekelompok) kation dari yang lain. Misalnya, bila suatu pereaksi menyebabkan sebagian kation mengendap dan sisanya tetap larut, maka setelah endapan disaring, terdapatlah dua kelompok campuran, yang isinya masing-masing kurang dari campuran sebelumnya (Harjadi, 1993).
Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation-kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida, dan ammonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. Jadi, boleh kita katakan, bahwa klasifikasi kation yang paling umum, didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari kation tersebut. Skema klasifikasi anion bukanlah skema yang kaku, karena beberapa anion termasuk dalam lebih dari satu sub golongan, lagipula, tak mempunyai dasar teoritis. Pada hakekatnya, proses-proses yang dipakai dapat dibagi kedalam (A) proses yang melibatkan identifikasi produk-produkyang mudah menguap, yang diperoleh pada pengolahan dengan asam-asam, dan (B) proses yang tergantung pada reaksi-reaksi dalam larutan. Kelas (A) dibagi lagi ke dalam sub-klas (i) gas-gas yang dilepaskan dengan asam klorida encer atau asam sulfat encer, dan (ii) gas atau uap dilepaskan dengan asam sulfat pekat. Kelas (B) dibagi lagi ke dalam sub-kelas (i) reaksi pengendapan, dan (ii) oksidasi dan reduksi dalam larutan (Vogel, 1985).
Salah satu langkah dalam prosedur emisi nyala atau fotometri nyala melibatkan penyemprotan sampel ke nyala. Radiasi dari sumber akan diuraikan untuk mendapatkan daerah spektrum yang diinginkan. Intensitas dari radiasi spektrum yang diinginkan. Dengan sistem penyemprot diharapkan distribusi yang seragam dari sampel masuk ke nyala sehingga maslah-masalah yang berhubungan dengan busur api dan bunga api dapat dihindarkan. Fotometer nyala tersusun dari pengatur tekanan, pengukur aliran untuk gas baker, atomizer, pembakar, system optik dari detektor fotosensitif (Khopkar, 2002).
Analisa kuantitatif dapat dilakuakn pada bermacam-macam skala. Dalam analisa makro kuantitas zat yang dikerjakan adalah 0,5 – 1 gram dan volum larutan yang diambil untuk suatu analisis sekitar 20 ml. Dalam apa yang disebut analisa semi mikro, kuantitas yang digunakan untuk analisis dikurangi dengan faktor 0,1 – 0,05, yakni sekitar 0,05 gram dan volume larutan sekitar 1 ml. Untuk analisis mikro faktor itu adalah 0,01 atau kurang. Tidak ada batas yang tajam antara analisis semimikro dan mikro (Svehla, 1990).
Reaksi selektif penting dalam analisa, sebab misalnya bila reaksi tidak terjadi maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ag+, Pb2+, dan Hg+ tidak terdapat dalam bahan yang dianalisis. Sebaliknya, bila dalam suatu campuran terjadi reaksi maka kelompok yang mengendap akan terpisah dari kelompok yang tidak mengendap, jadi berguna sebagai alat pemisah sekelompok komponen dari komponen-komponen yang lain (Khopkar, 2002).
Alur pengujian analisis kualitatif kation pada Golongan Kation ke tiga : Besi (II),besi (III),aLuminium,kromium (III),kromium (IV),NIkel,kobalt,mangan (II),mangan (III),dan zink. (Tapi yang saya buat alur hanya besi (II) dan besi (III). Reagensia golongan : hydrogen sulfida (gas atau larutan air jenuh) dengan adanya ammonia dan ammonium klorida, atau larutan ammonium sulfida. Reaksi golongan : endapan-endapan  denagn berbagai warna : Besi (II) sulfida (hitam), aluminium hidroksida (putih), kromium (III) hodroksida (hijau), NIkel sulfida (hitam), kobalt sulfida (hitam),m angan (II) sulfida (merah jambu), dan zink sulfide (putih).
Besi,Fe (Ar : 55,85)- Besi (II) Besi yang murni adalah logam berwarna putih-perak,yang kukuh dan liat. Melebur pada 1535 OC.Jarang terdapat besi komersial yang murni,biasanya besi mengandung sejumlah kecil karbida,silisida,fosfisa,dan sulfide dari besi,serta sedikit grafit. Zat-zat pencemar ini memainkan peranan penting dalam kekuatan struktur besi. Besi dapat dimagnitkan.asam klorida encer atau pekat dan asam sulfat encer melarutkan besi,pada mana dihasilkan garam-garam besi (II) dan gas hydrogen.
Fe + 2HFe2+ + H2
Fe + 2HClFe2+ + 2Cl-   + H2
Asam sulfat pekat yang panas,menghasilkan ion-ion besi (III) dan belerang diosida.
2Fe + 3H2SO4+ + 6H+ 2Fe3+ + 3SO2 ↑ + 6H2O
Dengan asam nitrat encer dingin,terbentuk ion besi (II) dan ammonia 4Fe + 10H+ +NO3 4Fe2+ + NH2+ + 3H2O Asam nitrat pekat,dingin,membuat besi menjadi pasif ; dalam keadaan ini,asam nitrat pekat tidak bereaksi asam nitrat encer dan tak pula mendesak tembaga dari larutan air suatu garam tembaga.asam nitrat 1 + 1 atau asam nitrat pekat yang panas melarutkan besi dengan membuat gas nitrogen oksida dan ion besi (III) Fe + HNO3 +3H+ Fe3+ + NO ↑  + 2H2O
Besi membentuk dua deret garam yang penting.  Garam-garam besi (II) (atau fero) diturunkan dari besi oksida, FeO. Dalam larutan,garam-garam ini mengandung kation Fe2+ dan berwarna sedikit hijau. Ion-ion gabungan dari kompleks-kompleks sepit yang berwarna tua adalah juga umum. Ion besi (II) dapat mudah dioksidakan menjadi besi (III),maka merupakan zat pereduksi yang kuat. Semakin kurang asam larutan itu,semakin nyatalah efek ini ; dalam suasana netral atau basa bahkan oksigen dari atmofer akan mengoksidakan ion besi (II).maka larutan besi (II) harus sedikit asam bila ingin di simpan untuk waktu yang agak lama.
Garam-garam besi (III) (atau feri) diturunkan dari oksida besi (III),Fe2O3  mereka lebih stabil daripada garam besi (II). Dalam larutannya terdapat kation-kation Fe3+ yang berwarna kuning muda ; jika larutan mengandung klorida,warna menjadi semakin kuat. Zat-zat pereduksi mengubah ino besi (III) menjadi besi (II). Reaksi-reaksi ion besi (II) pakailah larutan 0,5 M besi (II) sulfat,FeSO4 .7H2O atau besi (II) amonium sulfat (garam mohr : FeSO4 .(NH4)2SO4.6H2O),Yang baru saja di buat dan samakan dengan 50 ml MH2SO4 per liter,untuk mempelajari reaksi-reaksi ini.


c. Kesimpulan
1. Sampel yang mengandung kation Fe+ berbentuk serbuk kristal, berwarna kuning kecokltaan, berbau asem, dan warna nyala adalah hijau.
2.    Pada uji kation Fe+, sampel ditambahkan HCl encer menghasilkan endapan yang berwarna coklat dengan filtratnya.
3.    Pada uji kation Fe+, endapan coklat hasil dari penambahan asam klorida encer kemudian dimasukkan ke dalam air panas masih menghasilkan endapan berwarna coklat dengan filtratnya.
4.    Pada uji kation Fe+, dengan menambahkan amonium hidroksida pada endapan hasil dari penambahan air panas, maka endapan tidak terbentuk lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar