KIMIA ANALITIK
Tugas 5
“ANALISIS
KUALITATIF ANORGANIK”
A.
Prinsip analisis
Kimia analisis dapat dibagi dalam dua bidang yang disebut dengan analisis
kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif membahas identifikasi zat-zat. Urusannya adalah unsur
atau senyawaan apa yang
terdapat dalam suatu sampel (contoh). Analisis kuantitatif berurusan dengan penetapan banyaknya suatu zat tertentu yang ada dalam sampel. Zat yang
ditetapkan, yang sering dirujuk sebagai konstituen
yang diinginkan atau analit, dapat merupakan sebagian
kecil atau sebagian besar dari contoh yang dianalisis (Day dan Underwood,
1986).
Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation-kation diklasifikasikan
dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa
reagensia. Dengan memakai apa yang disebut reagensia golongan secara
sistematik, dapat kita tetapkan ada tidaknya golongan-golongan kation, dan
dapat juga memisahkan golongan-golongan ini untuk pemeriksaan lebih lanjut
(Svehla, 1990).
Kation golongan I membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion
golongan ini adalah timbel, merkurium(I) (raksa), dan perak. Kation golongan
pertama, membentuk klorida-klorida yang tak larut. Namun, timbel klorida
sedikit larut dalam air, dan karena itu timbel tak pernah mengendap dengan
sempurna bila ditambahkan asam klorida encer kepada suatu cuplikan; ion timbel
yang tersisa itu, diendapkan secara kuantitatif dengan hidrogen sulfida dalam
suasana asam bersama-sama kation golongan kedua (Svehla, 1990).
Kation golongan II tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk
endapan dengan hidogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion
golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, bismut, kadmium, arsenic (III), arsenic (V), stibium (III), stibium (V), timah (II), dan timah (III) (IV). Keempat ion yang pertama merupakan sub-golongan IIA dan keenam yang
terakhir sub-golongan IIB. Sementara sulfida dari kation dalam golongan IIA tak
dapat larut dalam amonium polosulfida, sulfida dari kation dalam golongan IIB
justru dapat larut (Svehla, 1990).
Kation golongan III tak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan
hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini membentuk
endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal.
Kation-kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi (II), besi (III),
kromium (III),
aluminium, zink, dan mangan (II) (Svehla, 1990).
Kation golongan IV tak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III.
Kation-kation ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya
amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation-kation golongan
ini adalah: kalsium, strontium, dan barium. Kation-kation yang umum, yang tidak
bereaksi dengan reagensia-reagensia golongan sebelumnya, merupakan golongan
kation yang terakhir, yang meliputi ion-ion magnesium, natrium, kalium,
amonium, litium, dan hidrogen (Svehla, 1990).
Dengan pemisahan-pemisahan
menjadi kelompok-kelompok yang cukup kecil dan atau kation tersendiri
(terisolasi), lalu dilakukan pembuktian mengenai ada atau tidaknya
kation-kation dalam setiap kelompok. Dengan jalan ini, kita melakukan analisa
secara sistematis. Reaksi-reaksi disini menyebabkan
terjadinya zat-zat yang baru dari zat semula dan dikenali dari perbedaan sifat
fisiknya yang antara lain :
1. Membentuk
endapan dari suatu larutan
2. Melarutkan
zat yang terbentuk padat/endapan
3. Zat yang
berwarna lain
4. Pembentukan
gas
5. Bentuk
kristal yang khas
Analisis
kualitatif menggunakan dua macam uji, raksi kering dan reaksi basah. Reaksi
kering dapat diterapkan untuk zat-zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam
larutan. sejumlah uji yang dapat dilakukan dalam keadaan kering, yakni tanpa
melarutkan contoh. Misalnya dengan pemanasan, uji pipa-tiup, uji nyala, uji
spektroskopi, uji manik boraks, uji manik fosfat, dan uji manik natrium
karbonat. Reaksi basah dibuat dengan melarutkan zat-zat dalam larutan. Suatu
reaksi diketahui berlangsung
(a) dengan
terbentuknya endapan
(b) dengan
pembebasan gas
(c) dengan
perubahan warna
Reagensia golongan yang dipakai
untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen
sulfida, dan amonium karbonat serta amonium sulfida. Klasifikasi ini didasarkan
atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia ini membentuk
endapan atau tidak. Jadi boleh kita katakan bahwa klasifikasi kation didasarkan
atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari kation
tersebut. Kelima golongan kation dan ciri-ciri khas golongan-golongan ini
adalah sebagai berikut:
1. Golongan I
Kation golongan ini membentuk
endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion golongan ini adalah timbel,
merkurium (I), dan perak.
2. Golongan II
Kation
golongan ini membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam
mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, bismut,
kadnium, arsenik (III), arsenik (IV), stibium (III), stibium (V), timah (II),
dan timah (III), (IV).
3. Golongan III
Kation
golongan ini membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau
amoniakal. Kation-kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi
(II), kromium (III), aluminium, Zink dan Mangan.
4. Golongan IV
Kation
golongan ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya amonium
klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation golongan ini adalah
kalsium, barium, dan stronsium.
5. Golongan V
Kation-kation
yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia golongan sebelumnya,
merupakan golongan kation terakhir yang meliputi ion-ion megnesium, natrium,
kalsium, amnium, litium, dan hidrogen (Svehla, 1990).
Setelah pemisahan dan deteksi
kation-kation yang sistematik, pencarian terhadap anion-anion haruslah dimulai.
Tiosulfat umumnya tidak larut. Untuk penyelidikan anion, kita perlu memperoleh
larutan yang mengandung semua atau sebagian besar dari anion-anion itu, bebas
dari logam berat sejauh mungkin. Ini paling baik dengan jalan mendidihkan zat
itu dengan larutan natrium karbonat
pekat; terjadi penguraian berganda (entah sebagian atau sempurna) dengan
menghasilkan karbonat-karboanat yang tak larut (dalam beberapa keadaan karbonat
basa dan hidroksida-hidroksidanya) dari logam-logamnya (kecuali logam alkali),
dan garam-garam natrium yang larut dari anion-anionnya, yang akan masuk ke
dalam larutan (Vogel, 1985).
Perak adalah logam yang putih, dapat ditempa dan liat. Rapatannya tinggi
(10,5 gr ml-1) dan ia melebur pada 960,5°C. Ia tak larut dalam asam
klorida , asam sulfat encer (1 M) atau asam nitrat encer (2 M). Ia melarut
dalam asam nitrat yang lebih pekat atau dalam asam sulfat pekat. Perak
membentuk ion monovalen dalam larutan yang tak berwarna. Senyawa-senyawa
perak(II) tidak stabil, tetapi memainkan peranan penting dalam proses-proses
oksidasi-reduksi yang dikatalisiskan oleh perak. Perak nitrat mudah larut dalam
air; perak asetat, perak nitrit dan perak sulfat kurang larut, sedang semua
senyawa-senyawa perak lainnya praktis tidak larut. Tetapi kompleks-kompleks
perak, larut. Halida-halida perak peka terhadap cahaya; cirri-ciri khas ini
dipakai secara luas dalam bidang fotografi (Svehla, 1990).
Dekontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia menggunakan mediator
larutan perak (II) atau
disebut mediator Ag2+, memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:
peralatannya sangat kompak dan dapat diinstal di dalam glove box,
kondisi pengoperasian yang ringan di bawah tekanan normal dan suhu kamar, dan
material radioaktif berada di dalam fase cair. Dekontaminasi dengan metode oksidasi elektrokimia menggunakan mediator Ag2+ telah
banyak digunakan untuk dekontaminasi limbah terkontaminasi α, seperti di
Perancis telah dibangun instalasi pegolahan limbah radioaktif terkontaminasi α
dengan metode oksidasi elektrokimia sejak tahun 1981 yang bertempat di Lahague,
Amerika, Inggris bahkan belakangan Jepang sudah melakukan riset tentang
pengolahan limbah radioaktif terkontaminasi α dengan metode oksidasi
elektrokimia secara intesif (Suwardiyono, 2010).
Preparasi
larutan oligokation besi Agen pemilar dibuat dengan cara hidrolisis. Sebanyak
86,50 g FeCl3.6H2O dilarutkan dalam 1600 mL air bebas ion sambil diaduk
sehingga diperoleh larutan FeCl3 0,2 M. Larutan ini dihidrolisis dengan
penambahan NaOH (OH-/Fe3+=2,0) sampai diperoleh larutan FeCl3 dengan pH sekitar
dua, kemudian larutan ini diaduk dalam gelas beker 2000 mL selama 24 jam pada
temperatur kamar (25oC). Larutan oligomer yang diperoleh selanjutnya diperam
(aging) selama 24 jam pada temperatur kamar (Wijaya, dkk, 2004).
Penentuan Kandungan besi di dalam
Na- montmorillonit dan komposit oksida besi- montmorillonit Untuk penentuan
kandungan Fe dalam lempung terpilar digunakan metode analisis pengaktifan
neutron (APN). Masing-masing 0,1 gram sampel Na-montmorilonit, montmorilonit
termodifikasi oksida besi dan montmorilonit termodifikasi oksida besi dengan
penambahan asam sulfat 1M, 2M, dan 3M
yang masing-masing dituliskan sebagai Komposit -1M, Komposit-2M dan
Komposit-3M serta Standar Reference Material (SRM) 2704 dimasukkan ke dalam
tempat sampel kemudian diradiasi selama 2 menit dan didinginkan selama 5 menit
(sebagai waktu tunda). Selanjutnya sampel dan SRM dicacah dengan alat
spektrometer gamma jenis 92x spectrum master
B.
Reaksi kimia yang terlibat
C.
Bahan dan alat
A. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah,
1.pembakar bunsen
2.tabung reaksi
3.sudip
4.penjepit
5.botol seprot.
B. Bahan
Bahan yang dipergunakan antara lain,
1.larutan sampel kation
2.sampel anion
3.amonium karbonat
4.asam klorida encer
5.air
6.amonium hidroksida
7.asam sulfat ence
8.natrium hidroksida
9.kalium sianat
10.asam klorida pekat
11.besi klorida
12.reagensia nikel etilenadiamina nitrat
D.
Prosedur
analisis
A. Penentuan Kation
1. Analisis Pendahuluan
v Sampal diamati
menurut bentuk zat.
v Sampel diamati
berdasarkan warna zat.
v Sampel diamati
berdasarkan bau yang ditimbulkan.
2. Pada uji nyala, sampel direaksikan dengan larutan HCl
pekat kemudian dipanaskan dalam nyala bunsen dan diamati warna yang dihasilkan.
3. Pada uji kelarutan, sampel direaksikan secara bertahap
dengan akuades dingin, akuades panas, HCl 2N, HCL pekat, HNO3 2N,
HNO3 pekat dan aquaregia hingga larut.
4. Pada uji penggolongan
v Filtrat yang dihasilkan direaksikan dengan HCl 6N, jika terbentuk endapan
merupakan golongan I
v Filtrat yang dihasilkan direaksikan dengan NH4Cl dan NH4OH
6N (basa), jika terbentuk endapan termasuk golongan III A.
v Filtrat dihasilkan dan direaksikan dengan (NH4)2CO3, jika
terbentuk endapan termasuk golongan IV A. Sedangkan jika masih berupa filtrat
merupakan golongan sisa / golongan V.
v Pada uji identifikasi golongan dan uji identifikasi kation, sampel
diidentifikasi berdasarkan penggolongan dan kation.
E.
Perhitungan
dan analisis data
a. Hasil
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
Uji Kation
Uji Pendahuluan
a. Bentuk
b. Warna
c. Bau
Uji Nyala
Uji Kelarutan
Filtrat + Aquadest
Uji penggolongan
a.
Sampel + HCl 2 N
b.
Menambahkan air pada endapan
kemudian mendidihkan
c.
Menambahkan endapan hasil b dengan amonium hidroksida
Identifikasi Kation
|
Data Pengamatan
Kristal
Kuning kecoklatan
Berbau asem
Hijau
Larut
Endapan coklat
Masih
terdapat endapan warna coklat dan
filtrat
Filtrat
tanpa endapan
Fe+ (besi)
|
b. Pembahasan
Analisis kualitatif dilakukan untuk menemukan dan
mengidentifikasi jenis unsur, senyawa dan jenis gugusan yang terdapat dalam
bahan yang dianalisis. Hali ini sangat penting dilakukan karena faktanya adalah
seringkali seorang analis buta terhadap komposisi sampel yang akan dianalis
atau juga jenis pengotornya. Analisis kualitatif anorganik dapat dilakukan
dengan tahapan antara lain uji pendahuluan dengan mengamati bentuk, warna dan
bau yang dihasilkan dari suatu cuplikan. Tahapan selanjutnya yaitu uji nyala,
uji kelarutan, uji penggolongan, uji identifikasi golongan, uji identifikasi
kation dan uji identifikasi anion.
Besi adalah logam yang
berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak digunakan untuk kehidupan manusia
sehari-hari. Dalam tabel periodik, besi
mempunyai simbol Fe dan nomor
atom 26. Besi
juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Besi adalah logam yang paling banyak
dan paling beragam penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:
·
Kelimpahan
besi di kulit bumi cukup besar
·
Pengolahannya
relatif mudah dan murah dan
c.
·
Besi
mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi
Salah satu
kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi
menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau
bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah
dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless
steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Kation
golongan 3 (Al3+, Cr3+, Fe2+, Mn2+)
membentuk sulfida yang lebih larut dibandingkan kationgolongan 2. Karena itu
untuk mengendapkan kation golongan 3 sebagaigaram sulfida konsentrasi ion H+
dikurangi menjadi sekitar 10-9 M atau pH 9.Hal ini dapat dilakukan dengan
penambahan amonium hidroksida danamonium klorida.Kemudian dijenuhkan dengan H2S.
Dalam kondisi inikesetimbangan:
H2S
→ 2H+ + S2-
akan
bergeser ke kanan. Dengan demikian konsentrasi S2-akan meningkan dan
cukup untuk mengendapkan kation golongan III. H2S dapat juga diganti
dengan (NH4)2S. Penambahan amonium hidroksida dan amonium
klorida juga dapat mencegah kemungkinan mengendapnya Mg menjadi Mg(OH)2.
Penambahan kedua pereaksi ini menyebabkan mengendapnya kation Al3+,
Cr3+ dan Fe2+, sebagai hidroksidanya, Fe(OH)3(coklat),
Al(OH)3(putih) dan Cr(OH)3 (putih). Ion sulfida dapat
bereaksi dengan Mn2+ dan Fe2+ akan bereaksi langsung
membentuk endapan sulfida FeS (hitam) dan MnS (coklat).
Kation
golongan 3 (Al3+, Cr3+, Fe2+, Mn2+)
membentuk sulfida yang lebih larut dibandingkan kationgolongan 2. Karena itu
untuk mengendapkan kation golongan 3 sebagaigaram sulfida konsentrasi ion H+
dikurangi menjadi sekitar 10-9 M atau pH 9.Hal ini dapat dilakukan dengan
penambahan amonium hidroksida danamonium klorida.Kemudian dijenuhkan dengan H2S.
Dalam kondisi inikesetimbangan:
H2S
→ 2H+ + S2-
Akan
bergeser ke kanan. Dengan demikian konsentrasi S2-akan meningkan dan
cukup untuk mengendapkan kation golongan III. H2S dapat juga diganti
dengan (NH4)2S. Penambahan amonium hidroksida dan amonium
klorida juga dapat mencegah kemungkinan mengendapnya Mg menjadi Mg(OH)2.
Penambahan kedua pereaksi ini menyebabkan mengendapnya kation Al3+,
Cr3+ dan Fe2+, sebagai hidroksidanya, Fe(OH)3(coklat),
Al(OH)3(putih) dan Cr(OH)3 (putih). Ion sulfida dapat
bereaksi dengan Mn2+ dan Fe2+ akan bereaksi langsung
membentuk endapan sulfida FeS (hitam) dan MnS(coklat).
Larutan ammonia, endapan coklat merah seperti gelatin dari besi(III)
hidroksida, yang tak larut dalam reagensia berlebihan, tetapi larut dalam asam.
Fe3+ + 3NH3 + 3H2O → Fe(OH)3↓ +
3NH4+
Hasil kali
kelarutan besi(III) hidroksida begitu kecil (3,8x10-38), sehingga
terjadi pengendapan sempurna, bahkan dengan adanya garam-garam ammonium
(perbedaan dari besi (III), nikel, kobalt,mangan, zink dan magnesium). Pengendapan tak terjadi jika ada serta asam-asam
organik tertentu. Besi (III) hidroksida diubah pada pemanasan yang kuat menjadi besi (III) oksida
Kation golongan III tak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan
hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini membentuk
endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal.
Kation-kation golongan ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi (II), besi (III),
kromium (III),
aluminium, zink, dan mangan (II) (Svehla, 1990).
Analisa campuran beberapa kation lazimnya dilakukan dengan cara pengendapan
bertahap menggunakan reagen yang sesuai. Salah satu cara untuk analisa campuran
adalah dengan mempergunakan reaksi-reaksi selektif. Pada pokok tujuannya ialah
memisahkan segolongan (sekelompok) kation dari yang lain. Misalnya, bila suatu
pereaksi menyebabkan sebagian kation mengendap dan sisanya tetap larut, maka
setelah endapan disaring, terdapatlah dua kelompok campuran, yang isinya
masing-masing kurang dari campuran sebelumnya (Harjadi, 1993).
Untuk tujuan analisis
kualitatif sistematik kation-kation diklasifikasikan dalam lima golongan
berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Reagensia
golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah asam
klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida, dan ammonium karbonat. Klasifikasi
ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia ini
dengan membentuk endapan atau tidak. Jadi, boleh kita katakan, bahwa
klasifikasi kation yang paling umum, didasarkan atas perbedaan kelarutan dari
klorida, sulfida, dan karbonat dari kation tersebut. Skema klasifikasi anion
bukanlah skema yang kaku, karena beberapa anion termasuk dalam lebih dari satu
sub golongan, lagipula, tak mempunyai dasar teoritis. Pada hakekatnya,
proses-proses yang dipakai dapat dibagi kedalam (A) proses yang melibatkan
identifikasi produk-produkyang mudah menguap, yang diperoleh pada pengolahan
dengan asam-asam, dan (B) proses yang tergantung pada reaksi-reaksi dalam
larutan. Kelas (A) dibagi lagi ke dalam sub-klas (i) gas-gas yang dilepaskan
dengan asam klorida encer atau asam sulfat encer, dan (ii) gas atau uap
dilepaskan dengan asam sulfat pekat. Kelas (B) dibagi lagi ke dalam sub-kelas
(i) reaksi pengendapan, dan (ii) oksidasi dan reduksi dalam larutan (Vogel,
1985).
Salah satu langkah dalam
prosedur emisi nyala atau fotometri nyala melibatkan penyemprotan sampel ke
nyala. Radiasi dari sumber akan diuraikan untuk mendapatkan daerah spektrum
yang diinginkan. Intensitas dari radiasi spektrum yang diinginkan. Dengan
sistem penyemprot diharapkan distribusi yang seragam dari sampel masuk ke nyala
sehingga maslah-masalah yang berhubungan dengan busur api dan bunga api dapat
dihindarkan. Fotometer nyala tersusun dari pengatur tekanan, pengukur aliran
untuk gas baker, atomizer, pembakar, system optik dari detektor fotosensitif
(Khopkar, 2002).
Analisa kuantitatif dapat
dilakuakn pada bermacam-macam skala. Dalam analisa makro kuantitas zat yang
dikerjakan adalah 0,5 – 1 gram dan volum larutan yang diambil untuk suatu
analisis sekitar 20 ml. Dalam apa yang disebut analisa semi mikro, kuantitas
yang digunakan untuk analisis dikurangi dengan faktor 0,1 – 0,05, yakni sekitar
0,05 gram dan volume larutan sekitar 1 ml. Untuk analisis mikro faktor itu adalah
0,01 atau kurang. Tidak ada batas yang tajam antara analisis semimikro dan
mikro (Svehla, 1990).
Reaksi selektif penting dalam
analisa, sebab misalnya bila reaksi tidak terjadi maka dapat diambil kesimpulan
bahwa Ag+, Pb2+, dan Hg+ tidak terdapat dalam
bahan yang dianalisis. Sebaliknya, bila dalam suatu campuran terjadi reaksi
maka kelompok yang mengendap akan terpisah dari kelompok yang tidak mengendap,
jadi berguna sebagai alat pemisah sekelompok komponen dari komponen-komponen yang
lain (Khopkar, 2002).
Alur
pengujian analisis kualitatif kation pada Golongan Kation ke tiga : Besi
(II),besi (III),aLuminium,kromium (III),kromium (IV),NIkel,kobalt,mangan
(II),mangan (III),dan zink. (Tapi yang saya buat alur hanya besi (II) dan besi
(III). Reagensia
golongan : hydrogen sulfida (gas atau larutan air jenuh) dengan adanya ammonia
dan ammonium klorida, atau larutan ammonium sulfida. Reaksi
golongan : endapan-endapan denagn berbagai warna : Besi (II) sulfida
(hitam), aluminium hidroksida (putih), kromium (III) hodroksida (hijau), NIkel
sulfida (hitam), kobalt sulfida (hitam),m angan (II) sulfida (merah jambu), dan
zink sulfide (putih).
Besi,Fe (Ar
: 55,85)- Besi (II) Besi yang murni adalah logam berwarna putih-perak,yang
kukuh dan liat. Melebur pada 1535 OC.Jarang terdapat besi
komersial yang murni,biasanya besi mengandung sejumlah kecil
karbida,silisida,fosfisa,dan sulfide dari besi,serta sedikit grafit. Zat-zat
pencemar ini memainkan peranan penting dalam kekuatan struktur besi. Besi dapat
dimagnitkan.asam klorida encer atau pekat dan asam sulfat encer melarutkan
besi,pada mana dihasilkan garam-garam besi (II) dan gas hydrogen.
Fe + 2H+
Fe2+ + H2 ↑
Fe + 2HCl+
Fe2+ + 2Cl- + H2 ↑
Asam sulfat
pekat yang panas,menghasilkan ion-ion besi (III) dan belerang diosida.
2Fe + 3H2SO4+
+ 6H+ → 2Fe3+ + 3SO2 ↑ + 6H2O
Dengan asam
nitrat encer dingin,terbentuk ion besi (II) dan ammonia 4Fe + 10H+
+NO3+ → 4Fe2+ + NH2+
+ 3H2O Asam nitrat pekat,dingin,membuat besi menjadi pasif ;
dalam keadaan ini,asam nitrat pekat tidak bereaksi asam nitrat encer dan tak
pula mendesak tembaga dari larutan air suatu garam tembaga.asam nitrat 1 + 1
atau asam nitrat pekat yang panas melarutkan besi dengan membuat gas nitrogen
oksida dan ion besi (III) Fe + HNO3 +3H+ →
Fe3+ + NO ↑ + 2H2O
Besi
membentuk dua deret garam yang penting. Garam-garam
besi (II) (atau fero) diturunkan dari besi oksida, FeO. Dalam
larutan,garam-garam ini mengandung kation Fe2+ dan berwarna sedikit hijau. Ion-ion
gabungan dari kompleks-kompleks sepit yang berwarna tua adalah juga umum. Ion besi
(II) dapat mudah dioksidakan menjadi besi (III),maka merupakan zat pereduksi
yang kuat. Semakin
kurang asam larutan itu,semakin nyatalah efek ini ; dalam suasana netral atau
basa bahkan oksigen dari atmofer akan mengoksidakan ion besi (II).maka larutan
besi (II) harus sedikit asam bila ingin di simpan untuk waktu yang agak lama.
Garam-garam
besi (III) (atau feri) diturunkan dari oksida besi (III),Fe2O3 mereka
lebih stabil daripada garam besi (II). Dalam larutannya terdapat
kation-kation Fe3+ yang berwarna kuning muda ; jika larutan mengandung
klorida,warna menjadi semakin kuat. Zat-zat pereduksi mengubah ino besi
(III) menjadi besi (II). Reaksi-reaksi ion besi (II) pakailah larutan 0,5 M
besi (II) sulfat,FeSO4 .7H2O atau besi (II) amonium
sulfat (garam mohr : FeSO4 .(NH4)2SO4.6H2O),Yang
baru saja di buat dan samakan dengan 50 ml MH2SO4 per
liter,untuk mempelajari reaksi-reaksi ini.
c.
Kesimpulan
1. Sampel yang mengandung kation Fe+ berbentuk serbuk kristal, berwarna kuning kecokltaan, berbau asem, dan warna nyala adalah hijau.
2. Pada uji
kation Fe+, sampel ditambahkan HCl encer
menghasilkan endapan yang berwarna coklat dengan filtratnya.
3. Pada uji
kation Fe+, endapan coklat hasil dari penambahan asam klorida encer kemudian dimasukkan ke dalam air
panas masih menghasilkan endapan berwarna coklat dengan filtratnya.
4. Pada uji
kation Fe+, dengan menambahkan amonium
hidroksida pada endapan hasil dari penambahan air panas, maka endapan tidak
terbentuk lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar